Make your own free website on Tripod.com
syamputra

Home

Selamat Datang | Pencak Diri | Tinta Jiwa | Renungan | Wajah Pujaan | Biodata | Favorite Links | Contact Me | Johan Juara | Syurgaku | Bunga Berbunga | Novella Gabass | Karya Agung | Diari Hati | Puisi Cinta | ReRalat | Articles | Project Paper | Publisiti | Lirik lagu | Idola Minda | Sajak | Pantun | Syair Pujangga | Madah Bermadah | Bicara Lara
Diari Hati

Adakalanya langkah ku terkunci

Semua tintaku ini..lahir dari nurani yang luhur
kisahnya adalah tentang cinta yang kecundang. Hampa

________________________________
Cahaya semalam
________________________________

Dalam cermin
Lakumu kulihat
Terpancar cahaya iman yang terang
Aku masih terperangkap
Didalam biasan kehidupan
Yang terumbang

Wajah ini kutatapi
Makin berubah lantai muka
Hakisan pengalaman yang
Mencakar usia muda

Dekad ini
Aku masih mencari
Roda roda keinsafan
Bagi membawa aku
Lari dari pergolakan jasad noda
Atau biarlah
Aku yang terbang tanpa sayap
Ke pintu pengadilan
Akhirat

Syamputra
27/11/2001



***************************
Bunga Cinta Kembali Berbunga
***************************


Dahulu aku pernah berkata
Bunga cinta berdarah

Dahulu jua aku bisa berucap
Bunga hampa bernanah

Dahulu adalah duri yang kurasakan
Tajam didalam hati

Dahulu jua kurasakan
Ada pohon cinta yang
Telah berbuah mekar
Enak mataku memandang ranum
Buah yang tergantung
Jemariku lekas memetik buah cinta itu
Lalu dikunyah tanpa berfikir
Tentang isi keenakan mata memandang
Selang aku menghayati santapan
Aku sedar
Buah itu adalah milik orang
Dan tanah itu asalnya gersang
Subur enggan bertandang
Kerna dahulu aku bisa menyiram pohon itu
Dan telah kunanti pembesarannya
Hingga aku bisa menjamah buah pertama
Dari pohon kasih itu

Bila buah dikunyah
Hancur isi dari kulit
Menjadi daging
Darah yang mengalir dalam tubuh
Jua bisa mengaku akan keakraban
Isi dan daging

Bertahun tubuh itu
Menjamah buah dari pohon kasih itu
Nikmat yang dirasa
Seolah rutin
Yang membiarkan dia sebati
Dalam kebiasaannya

Setelah sekian lama
Membenih dan menyiram pohon kasih
Ada tika angin menyapa
Lembut bila membelai
Damai mengangkut hening perasaan
Aku terasa seakan
Dibuai mimpi indah
namun siapa tahu...
ribut hampir menelan nikmat alam
tandus pohon itu kerna
akarnya tidak sekuat
kasih sayang seorang insan
yang sejati


syamputra
3/12/2001